Sunday, March 10, 2013

Fisclet Oppa-neun, Nae Kkoya (오빠는 내꺼야)


Author      : Park JiJoon
Main Cast  : Park JiJoon
                     Lee HyukJae
Genre        : AU, Romace, A little bit Sad
Cover Pict : Park JiJoon
Warning   : This is not perfect, really need your suggestion and comment for make it better.
Disclaimer : JoonHyuk is mine,it's real, sah dunia akhirat kekekekekeke~~. The story belong to me, don't copy paste, HATE Plagiat..! Thanks for reading, don't like it just ignore it..!



Annyeonghaseo FanFiction Cafe readers ^__^
Author Park JiJoon is back, kali ini bawa drabble lagi.
Happy reading all 
~~Fisclet~~

Oppa-neun, Nae Kkoya (오빠는 내꺼야)


=== STORY BEGIN ===

 “Chagi..” bisik HyukJae memelukku erat. Lagi-lagi HyukJae berhasil memuat berbagai macam emosi berbeda dalam dadaku hampir meledak hanya dengan satu kata. Kebahagiaan karena melihatnya lagi, rindu yang hampir membuatku gila, frustasi karena namja itu mengacuhkanku selama kepergiannya dan sedikit rasa marah.

Aku hanya terdiam menerima pelukan hangatnya yang sangat kurindukan, aku hanya diam tidak juga membalas pelukannya. Beberapa hari ini namjaku Lee HyukJae pergi meninggalkan Seoul dan tentu saja meninggalkanku untuk urusan bisnis ke salah satu negara di bagian Eropa. Prancis, namjaku itu melakukan perjalanan bisnis ke negara indah itu selama hampir satu minggu.

Beberapa saat kemudian dia melepaskan pelukannya padaku dan menatap mataku heran.

“Waeyo chagi? Kau tidak merindukanku?” suara khasnya yang selalu kurindukan merangsak masuk ke telingaku, terdengar sangat menyenangkan berbicara dengannya. Dan gummy smilenya, hal pertama yang membuatku jatuh cinta padanya. Aku hanya masih menatap matanya, dengan dua bola mataku yang mulai dilapisi cairan bening yang siap untuk jatuh.

“Waeyo? Marhaeba, apa sesuatu terjadi padamu selama aku pergi chagi?” ujarnya khawatir meyibakkan rambut hitamku yang jatuh menutupi sebagian wajahku.

“Hajima..! Jangan tersenyum seperti itu dihadapanku sekarang oppa. Apa kau memang berencana membuatku gila?” ujarku sinis melepaskan tangan HyukJae dari kedua bahuku. Aku berbalik membelakanginya, tergesa meninggalkan namja itu masih dalam kebingungan. Namun sebuah tangan kembali menangkap lenganku dan menahannya disana.

“Chagi, waeyo? Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi?” ucap HyukJae tepat ditelinga kananku.  Aku menahan diri sekuat mungkin, menahan airmataku agar tidak jatuh disana.

“Molla oppa-ya? Apa oppa tidak sadar dengan yang telah oppa lakukan? Aku harus memberitahumu??” Kali ini HyukJae hanya diam menatapku seolah mencerna semua ucapanku. Dia mengangguk perlahan.

“Kau tidak sadar membiarkan aku khawatir selama beberapa hari ini? Pergi meninggalkanku dan oppa tidak menghubungiku sama sekali!! Aku tidak bisa tidur dengan tenang, aku tidak bisa makan dengan baik. Dan disaat aku lega melihatmu baik-baik saja aku juga merasa sangat marah melihat foto-fotomu bersenang-senang dengan para yeoja itu. Lebih buruknya aku tidak mengetahuinya darimu oppa, aku melihatnya dari website kantormu. Bukankah itu berlebihan Oppa?”

HyukJae kembali menarikku dalam pelukannya. Menepuk-nepuk punggungku berusaha menenangkanku, dan seharusnya emosiku mereda tapi aku malah menangis makin menjadi dipelukannya. Tanpa sadar aku mengepalkan tanganku dan mulai memukul dadanya.

“Mianhae chagi-ya, aku bersalah padamu. Aku sangat sibuk, sampai aku tidak punya kesempatan untuk mengaktifkan panggilan internasionalku dan kami sering bepergian jauh masuk ke daerah proyek aku meningalkan laptopku di hotel. Dan saat aku pulang dan ingin menghubungimu aku tahu kau pasti sudah tidur saat itu karena perbedaan waktu.”

HyukJae berusaha meredakan emosiku semuanya dengan semua alasannya, namun satu-pun tidak masuk dalam nalarku.  Dan hal yang makin membuatku kecewa adalah dia berbohong padaku, selama hampir 2 tahun ini kebohongan yang sangat sulit kuterima.

“Tidak bisakah oppa memberikanku alasan yang bagus? Aku tahu oppa sedang membohongiku!! Matamu selalu bergerak gelisah seperti itu saat Oppa berbohong..!”

Nafasku terasa sesak, rasanya aku berada di ruangan hampa tanpa oksigen. Aku sangat bahagia melihatnya namun aku juga sangat terluka karena aku tahu tidak lama lagi aku harus berpisah dengannya. Mungkin, namjaku baru menyadari ada banyak yeoja yang lebih cantik dan menarik dibandingkan denganku diluar sana.

“Baiklah aku mengaku..” Tubuhku menengang mendengar ucapannya, benarkan semuanya? Mataku membulat tidak percaya, aku mendorong tubuhnya yang masih melekat pada tubuhku untuk menjauhiku. Namun detik berikutnya namja itu kembali memelukku dan kali ini lebih erat.

“Aku mengaku, aku merencanakan semuanya chagi.. Aku hanya ingin meyakinkan diriku, apa yang akan terjadi kalau aku meninggalkan kekasihku dan membiarkan bertanya-tanya. Apakah dia masih akan menungguku? Dia akan marah karena khawatir atau akan menganggap ini bukan suatu masalah?” Aku masih tidak paham dengan semua  ucapan yang keluar dari mulut namjaku ini. Dia mengecup pipi kananku dan melanjutkan ucapannya.

“Aku melakukan hal bodoh, aku akan hancur jika ternyata kau baik-baik saja tanpaku. Dan aku bersyukur karena kau marah, sangat marah padaku..”

“Jadi sekarang aku yakin untuk membawamu pada orang tuaku dan aku percaya diri untuk datang secara resmi pada kedua orang tuamu chagii..”

Aku kembali menangis, kali ini aku menangis lega. Rasa sesak didalam dadaku mulai berangsur-angsur hilang. Aku menangis, kali ini dengan sangat keras. Aku tidak lagi menahannya.

“Napeun!!  Apa kau harus melakukan itu eoh? Kemana pun kau pergi, aku akan selalu menunggumu! Entah kapan kau kembali aku akan selalu menunggumu dengan setia. Oppa pabbo, jinjja pabbo!!! Kau tidak mempercayaiku eoh?” jeritku putus asa.

“Ne, aku memang bodoh chagii. Aku egois, aku melakukannya demi ketenangan hatiku tanpa memedulikanmu. Aku hanya tidak ingin kehilanganmu chagii.” bisiknya kembali memelukku lebih erat.

“Pabbo, kau hampir saja kehilanganku arra? Jangan pernah berani mengulanginya dan aku sangat benci melihat foto-foto itu. Bagaimana oppa bisa semudah itu meletakkan tangan mu pada pinggang yeoja lain.” Aku mempoutkan bibirku dan kemudian tersenyum kearahnya kali ini aku membalas memeluknya. Rasa marahku menguap dan menghilang hanya dalam hitungan detik.

“Jadi kau cemburu? Jotta, aku senang yeoja yang kucintai calon ibu dari anak-anakku ternyata sangat mencintaiku dan tidak ingin kehilanganku”

“Nde, aku cemburu! Aku tidak akan menyerahkan oppa pada siapapun. Oppa adalah milikku, nae kkoya..” ujarku mengalungkan kedua lenganku pada lehernya. 

Menatapnya dari dekat, merasakan nafasnya pada wajahku, mendengar detak jatungnya itu salah satu kebahagiaanku.

HyukJae terkekeh senang, dia menatapku tajam, aku menyukainya.

HyukJae mengecup keningku, aku sangat sangat menyukainya.

“Saranghae chagi..”

“Nado Oppa-ya”

“Jadi kapan kita akan menemui orang tuamu, chagii?? Aku tidak sabar menjadikanmu milikku.. Aku ingin berteriak pada dunia agar mereka semua tahu Park JiJoonie nae kkoya..”


END

No comments:

Post a Comment